Vimax

Cerita Sex Gina Pembantu Amoy Binal

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Hot | Cerita Ngentot | Cerita ABG | Cerita Syur Panas | Cerita Seks Dewasa – Gina Pembantu Amoy Binal. Tiga bulan kemarin aku pindah rumah kontrakkan yang baru aku beli, rumah yang dulu dan sekrang hanya berjarak dekat Cuma beda blok dari rumah awalku, selama aku tinggal di rumah yang baru aku sempat mengenal pembantu rumah tangga namanya Gina dia juga menjaga toko punya majikannya, jadi setiap aku belanja untuk keseharianku aku selalu bertemu dengan Gina.

Cerita Dewasa Pembantu Amoy Binal

Cerita Sex Gina Pembantu Amoy Binal
Cerita Sex Gina Pembantu Amoy Binal
Dia seorang gadis desa, kulit tubuhnya hitam manis namun bodinya seksi untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga di daerah kami tinggal, jadi dia sering digoda oleh para supir dan pembantu laki-laki, tapi aku yang bisa mencicipi kehangatan tubuhnya.

Inilah yang kualami dari 3 bulan lalu sampai saat ini. Suatu hari ketika aku mau ambil laundry di rumah majikan Gina dan kebetulan dia sendiri yang melayaniku.

“Gina, bisa tolong saya cariin pembantu…”

“Untuk di rumah Bapak…?”

“Untuk di apartemen saya, nanti saya gaji 1 juta.”

“Wah gede tuh Pak, yach nanti Gina cariin… kabarnya minggu depan ya Pak.”

“Ok deh, makasih yah ini uang untuk kamu, jasa cariin pembantu…”

“Wah.. banyak amat Pak, makasih deh..” Kutinggal Gina setelah kuberi 500 ribu untuk mencarikan pembantu untuk apartemenku, aku sangat perlu pembantu karena banyak tamu dan client-ku yang sering datang ke apartemenku dan aku juga tidak pernah memberitahukan apartemenku pada istriku sendiri, jadi sering kewalahan melayani tamu-tamuku.

Dua hari kemudian, mobilku dicegat Gina ketika melintas di depan rumah majikannya.

“Malam Pak…” “Gimana, sudah dapat apa belum temen kamu?”

“Pak, saya aja deh.. habis gajinya lumayan untuk kirim-kirim ke kampung.”

“Loh, nanti Ibu Ina, marah kalau kamu ikut saya.”

“Nggak.. apa-apa deh Pak, nanti saya yang bilang sama Ibu.”

“Ya, sudah kalau ini keputusanmu, besok pagi kamu saya jemput di ujung jalan sini lalu kita ke apartemen.

“Ok… Pak.” Keesokan pagi kujemput Gina di ujung jalan dan kuantarkan ke apartemenku. Begitu sampai Gina terlihat bingung karena istriku tidak mengetahui atas keberadaan apartemenku.

“Tugas saya apa Pak…?”

“Kamu hanya jaga apartemen ini, ini kunci kamu pegang satu, saya satu dan ini uang, kamu belanja dan masak yang enak untuk lusa karena temen-temen saya mau main ke sini.”

“Baik Pak…” Dengan perasaan agak tenang kutinggalkan Gina, aku senang karena kalau ada tamu aku tidak akan capai lagi karena sudah ada Gina yang membantuku di apartemen.

Keesokannya sepulang kantor, aku mampir ke apartemen untuk mengecek persiapan untuk acara besok, tapi aku jadi agak cemas ketika pintu apartemen kuketuk berkali-kali tidak ada jawaban dari dalam.

Pikiranku khawatir atas diri Gina kalau ada apa-apa, tapi ketika kubuka pintu dan aku masuk ke dalam apartemenku terdengar suara dari kamar mandiku yang pintunya terbuka sedikit. Kuintip dari sela pintu kamar mandi dan terlihatlah dengan jelas pemandangan yang membuat diriku terangsang.

Gina sedang mengguyur badannya yang hitam manis di bawah shower, satu tangannya mengusap payudaranya dengan busa sabun sedangkan satu kakinya diangkat ke closet dimana tangan satunya sedang membersihkan selangkangannya dengan sabun.

Pemandangan yang luar biasa indah membuat nafsu birahiku meningkat dan kuintip lagi, kali ini Gina menghadap ke arah pintu dimana tangannya sedang meremas-remas payudaranya yang ranum terbungkus kulit sawo matang dan putingnya sesekali dipijatnya, sedangkan bulu-bulu halus menutupi liang vaginanya diusap oleh tangannya yang lain, hal ini membuat dia merem-melek.

Pemandangan seorang gadis kira-kira 19 tahun dengan lekuk tubuh yang montok nan seksi, payudara yang ranum dihiasi puting coklat dan liang vagina yang menonjol ditutupi bulu halus sedang dibasahi air dan sabun membuat nafsu birahi makin meningkat dan tentu saja batangku mulai mendesak dari balik celana kantorku.

Melihat nafsuku mulai berontak dengan cepat kutanggalkan seluruh pakaian kerjaku di atas sofa, dengan perlahan kubuka pintu kamar mandiku, Gina yang sudah kembali membelakangiku, perlahan kudekati Gina yang membasuh sabun di bawah shower.

Secara tiba-tiba tubuhnya kupeluk dan kuciumi leher dan punggungnya.

Gina yang terkaget-kaget berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya.

“Akh.. jangan Pak.. jangan.. tolong Pak…” Karena tenaganya lemah sementara aku yang makin bernafsu, akhirnya Gina melemaskan tenaganya sendiri karena kalah tenaga dariku.

Bibir tebal dan merekah sudah kulumatkan dengan bibirku, tanganku yang satu membekap tubuhnya sambil menggerayangi payudaranya, sedangkan tanganku yang satunya telah mendarat di pangkal pahanya, vaginanya pun sudah kuremas.

“Ahhh.. ahhh.. jja. jjangan.. Pak…”

“Tenang sayang.. nanti juga enak…”

Aku yang sudah makin buas menggerayangi tubuhnya bertubi-tubi membuat Gina mengalah dan Gina pun membalas dengan memasukkan lidahnya ke mulutku sehingga lidah kami bertautan, Gina pun mulai menggelinjang di saat jariku kumasukan ke liang vaginanya.

“Arghh.. arghh… enak.. Pak.. argh…” Tubuh Gina kubalik ke arahku dan kutempelkan pada dinding di bawah shower yang membasahi tubuh kami.

Setelah mulut dan lehernya, dengan makin ke bawah kujilati akhirnya payudaranya kutemukan juga, langsung kuhisap kukenyot, putingnya kugigit.

Payudaranya kenyal sekali seperti busa. Gina makin menggelinjang karena tanganku masih merambah liang vaginanya.

“Argh.. akkkhh… akhh… terus.. Pak… enak… terus…” Aku pun mulai turun ke bawah setelah payudara, aku menjilati seluruh tubuhnya, badan, perut dan sampailah ke selangkangannya dimana aku sudah jongkok sehingga bulu halus yang menutupi vaginanya persis di hadapanku, bau harum tercium dari vaginanya.

Aku pun kagum karena Gina merawat vaginanya sebaik-baiknya. Bulu halus yang menutupi vaginanya kubersihkan dan kumulai menjilati liang vaginanya.

“Ssshh.. sshh.. argh.. aghh… aw… sshhh.. trus… Pak.. sshh… aakkkhh…” Aku makin kagum pada Gina yang telah merawat vaginanya karena selain bau harum, vagina Gina yang masih perawan karena liangnya masih rapat, rasanya pun sangat menyegarkan dan manis rasa vagina Gina.

Jariku mulai kucoba dengan sesekali masuk liang vagina Gina diselingi oleh lidahku. Rasa manis vagina Gina yang tiada habisnya membuatku makin menusukkan lidahku makin ke dalam sehingga menyentuh klitorisnya yang dari sana rasa manis itu berasal.

Gina pun makin menggelinjang dan meronta-ronta keenakan tapi tangannya malah menekan kepalaku supaya tidak melepaskan lidahku dari vaginanya.

“Auwwwhhh… aahhh… terus.. sedappp… Pakkkh…”

“Vaginamu sedap sekali… kalau begini… setiap malam aku pingin begini terus…”

“Mmm.. yah.. Pak.. terus.. Pak… oohhh…”

Gina makin menjerit keenakan dan menggelinjang karena lidahku kupelintir ke dalam vaginanya untuk menyedot klitorisnya.

Setelah hampir 30 menit vagina Gina kusedot-sedot, keluarlah cairan putih kental dan manis serta menyegarkan membanjiri vagina Gina, dan dengan cepat kujilat habis cairan itu yang rasanya sangat sedap dan menyegarkan badan.

“Ooohhh… ough… arghhh… sshh.. Pak, Gina… keluar.. nihhh… aahhh… sshh…”

“Ginn… cairanmu… mmmhh… sedap.. sayang… boleh.. saya masukin sekarang… batang saya ke vagina kamu? mmhh.. gimana sayang…”

“Hmmm… boleh Pak.. asal.. Ibu nggak tahu…” Gina pun lemas tak berdaya setelah cairan yang keluar dari vaginanya banyak sekali tapi dia seakan siap untuk dimasuki vaginanya oleh batangku karena dia menyender dinding kamar mandi tapi kakinya direnggangkan.

Aku pun langsung mendempetnya dan mengatur posisi batangku pada liang vaginanya. Setelah batangku tepat di liang vaginanya yang hangat, dengan jariku kubuka vaginanya dan mencoba menekan batangku untuk masuk vaginanya yang masih rapat.

“Ohhh… Gina.. vaginamu rapat sekali, hangat deh rasanya… saya jadi makin suka nih…” “Mmmmhh… mhhh.. Pak.. perih.. Pak… sakit…”

“Sabar.. sayang.. nanti juga enak kok, sabar ya…” Berulang kali kucoba menekan batangku memasuki vagina Gina yang masih perawan dan Gina pun hanya menjerit kesakitan, setelah hampir 15 kali aku tekan keluar-masuk batangku akhirnya masuk juga ke dalam vagina Gina walaupun hanya masuk setengahnya saja.

Tapi rasa hangat dari dalam vagina Gina sangat mengasyikan dimana belum pernah aku merasakan vagina yang hangat melebihi kehangatan vagina Gina membuatku makin cepat saja menggoyangkan batangku maju-mundur di dalam vagina Gina.

“Ginn, vaginamu hangat sekali, batangku rasanya di-steam-up sama vaginamu…”

“Iya.. Pak, tapi masih perih Pak…”

“Sabar ya sayang…” Kukecup bibirnya untuk menahan rasa perih vagina Gina yang masih rapat alias perawan sedang dimasuki batangku yang besarnya 29 cm dan berdiameter 5 cm, wajar saja kalau Gina menjerit kesakitan.

Payudaranya pun sudah menjadi bulan-bulanan mulutku, kujilat, kukenyot, kusedot dan kugigit putingnya.

“Ahh.. ahhh.. aah.. aww… Pak… iya Pak.. enak deh.. rasanya ada yang nyundul ke dalam vagina Gina.. aahh…” Gina yang sudah merasakan kenikmatan ikut juga menggoyangkan pinggulnya maju-mundur mengikuti iramaku.

Hal ini membuatku merasa menemukan kenikmatan tiada tara dan membuat makin masuk lagi batangku ke dalam vaginanya yang sudah makin melebar. Kutekan batangku berkali-kali hingga rasanya menembus hingga ke perutnya dimana Gina hanya bisa memejamkan mata saja menahan hujaman batangku berkali-kali.

Air pancuran masih membasahi tubuh kami membuatku makin giat menekan batangku lebih ke dalam lagi. Muka Gina yang basah oleh air shower membuat tubuh hitam manis itu makin mengkilat sehingga membuat nafsuku bertambah yaitu dengan menciumi pipinya dan bibirnya yang merekah.

Lidahku kumasukan dalam mulutnya dan membuat lidah kami bertautan, Gina pun membalas dengan menyedot lidahku membuat kami makin bernafsu.

“Mmmhh… mmmhhh… Pak.. batangnya nikmat sekali, Gina jadi.. mmauu… tiap malam seperti ini.. aaakh… aakkhh.. Paaakkhh.. Gina keeluuaarrr.. nniihh…”

Akhirnya bobol juga pertahanan Gina setelah hampir satu jam dia menahan seranganku dimana dari dalam vaginanya mengeluarkan cairan kental yang membasahi batangku yang masih terbenam di dalam vaginanya.

Tapi rupanya selain cairan, ada darah segar yang menetes dari vaginanya dan membasahi pahanya dan terus mengalir terbawa air shower sampai ke lantai kamar mandi dan lemaslah tubuhnya, dengan cepat kutahan tubuhnya supaya tidak jatuh.

Sementara aku yang masih segar bugar dan bersemangat tanpa melihat keadaan Gina, dimana batangku yang masih tertancap di vaginanya. Kuputar tubuhnya sehingga posisinya doggy style, tangannya kutuntun untuk meraih kran shower, sekarang kusodok dari belakang.

Pantatnya yang padat dan kenyal bergoyang-goyang mengikuti irama batangku yang keluar-masuk vaginanya dari belakang. Vagina Gina makin terasa hangat setelah mengeluarkan cairan kental dan membuat batangku terasa lebih diperas-peras dalam vaginanya.

Hal itu membuatku merasakan nikmat yang sangat sehingga aku pun memejamkan mata dan melenguh.

“Ohhh… ohhh.. Yar.. vaginamu sedap sekali, baru kali ini aku merasakan nikmat yang sangat luar biasa… aakkh.. aakkhh… sshhh…”

Gina tidak memberi komentar apa-apa karena tubuhnya hanya bertahan saja menerima sodokan batangku ke vaginanya, dia hanya memegangi kran saja.

Satu jam kemudian meledaklah pertahanan Gina untuk kedua kalinya dimana dia mengerang, tubuhnya pun makin merosot ke bawah dan cairan kental dengan derasnya membasahi batangku yang masih terbenam di vaginanya.

“Akhhh… aakkhh… Pak… Pakkhh… nikmattthhh…” Setelah tubuhnya mengelepar dan selang 15 menit kemudian gantian tubuhku yang mengejang dan meledaklah cairan kental dari batangku dan membasahi liang vagina Gina dan muncrat ke rahim Gina, yang disusul dengan lemasnya tubuhku ke arah Gina yang hanya berpegang pada kran sehingga kami terpeleset dan hampir jatuh di bawah shower kamar mandi.

Batangku yang sudah lepas dari vagina Gina dan masih menetes cairan dari batangku, dengan sisa tenaga kugendong tubuh Gina dan kami keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur dan langsung ambruk ke tempat tidurku secara bersamaan.

Aku terbangun sekitar jam 10.30 malam, itupun karena batangku sedang dikecup oleh Gina yang sedang membersihkan sisa-sisa cairan yang masih melekat pada batangku, Gina layak anak kecil menjilati es loli.

Aku usap kepalanya dengan lembut. Setelah agak kering Gina bergeser sehingga muka kami berhadapan. Dia pun menciumi pipi dan bibirku.

“Pak.. Gina puas deh… batang Bapak nikmat sekali pada saat menyodok-nyodok vagina Gina, Gina jadi kepingin tiap hari deh, apalagi di saat air hangat mengalir deras di rahim Gina… kalau Bapak gimana? Puas nggak.. sama Gina…?”

“Gin.. Bapak pun puas sekali.. Bapak senang bisa ngebongkar vagina Gina yang masih rapat.. terus terang… baru kali ini Bapak puas sekali bermain, sejak dulu sama istriku aku belum pernah puas seperti sekarang… makanya saya mau Gina siap kalau saya datang dan siap jadi istri kedua saya… gimana..?”

“Saya mah terserah Bapak aja.”

“Sekarang saya pulang dulu yach.

Gina… besok aku ke sini lagi…”

“Oke… Pak.. janji yach… vagina Gina maunya tiap hari nich disodok punya Bapak…”

“Oke.. sayang…” Kukecup pipi dan bibir Gina, aku mandi dan setelah itu kutinggal dia di apartemenku.

Sejak itu setiap sore aku pasti pulang ke tempat Gina terlebih dahulu baru ke istriku, sering juga aku beralasan pergi bisnis keluar kota pada istriku, padahal aku menikmati tubuh Gina pembantuku yang juga istri keduaku, hal ini sudah kunikmati dari tiga bulan yang lalu dan aku tidak tahu akan berakhir sampai kapan, tapi aku lebih senang kalau pulang ke pangkuan Gina. Ohhhh.. Gina, pembantuku? Istri keduaku? Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa

     Obat Pembesar Penis   Vimax  Obat Pembesar Penis


 Alat Bantu Sex


1 Response to "Cerita Sex Gina Pembantu Amoy Binal"