Vimax

Cerita Sex Masukan Anumu Ke Anuku

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update :Cerita Sex | Cerita Dewasa Hot | Cerita Ngentot | Cerita ABG | Cerita Syur Panas | Cerita Seks Dewasa – Masukan Anumu Ke Anuku. Pengalaman indahku ini aku tuliskan dalam kata kata, cerita panas ini terjadi saat aku mendapat kenalan dengan cowok, namany Hafid, dia tampan dengan tubuh yang atletis pria idamanku sekali, perkenalan itu terjadi tak sengaja saat ada acar di sekolahku, dia datang disekolahku dengan adiknya yang kebetulan adalah panitia perpisahan kami.
Cerita Sex Masukan Anumu Ke Anuku
Cerita Sex Masukan Anumu Ke Anuku
Aku mau mendiskripsikan diriku dahaulu Perkenalkan namaku Mela aku aku saat ini kelas 3 SMA, kata orang aku mirip dengan model karena tinggi ku yang 170cm dengan tubuh langsing payudaraku yang besar tapi tidak terlalu kecil juga. Sangat proposional antara tinggi dan derat badanku. Aku belum mempunyai pacar saat itu.

Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira tiga hari kemudian, Hafid menelepon ke rumahku. Hallo selamat sore, bisa bicara dengan Mela, ini dari Hafid.

Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa. Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Hmm, Mel ada acara nggak malam minggu ini. Aku sempat kaget Hafid mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar.

Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok. Hmmm belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada, jawabku. Kenapa bisa begitu, balas Hafid. Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku bakalan akan nggak terima telpon kamu lagi, balasku lagi.

Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu. Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Maruya. Dan ternyata rumah Hafid tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.

Tepat hari sabtu sore, Hafid datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana.

Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Hafid menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat. Mel, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu, bisik Hafid mesra. Fid, apa kita baru aja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar. Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku. Fid, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik.

Tiba-tiba tangan Hafid memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat.Aku juga Mel, begitu melihat kamu langsung tertarik. Dan Hafid menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Hafid memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Hafid sudah ada di depan mataku.

Dan pelan-pelan Hafid mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Hafid dan mencium bibirnya. Ciuman Hafid sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya.

Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Hafid mulai meraba sekitar dadaku. Jangan Fid, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu Fid, jawabku. Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Hafid karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.

Mel, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok. Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Hafid sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk.

Dan begitu film diputar, Hafid langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Hafid meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju. Tiba-tiba Hafid membisikkan sesuatu di telingaku, Mel, kamu membuat nafsuku naik. Aku juga Fid, balasku manja.

Dan Hafid menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. Astaga, pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Hafid sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. Teruskan Mel, remas yang kuat dan lebih kuat lagi. Tak lama kemudian, tangan Hafid sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya.

Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan. Akhirnya tangan Hafid berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Hafid meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Hafid memegang puting susuku yang sudah keras. Teruskan Fid, aku enak sekali.. Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain.

Astaga, pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Hafid untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Hafid yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. Teruskan Fid, aku enak sekali.. Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat.

Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa. Kita langsung pulang ya Mel sudah malam, pinta Hafid. Fid, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya. bisikku mesra. Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop.

Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Hafid. Mudah-mudahan Hafid mengerti apa yang kuinginkan. Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga, balas Hafid dengan nada gembira.

Sampai di senayan, Hafid memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Hafid menghentikan mobilnya, tiba-tiba Hafid langsung menarik wajahku dan mencium bibirku.

Kelihatannya Hafid begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi. Tiba-tiba Hafid melepaskan ciumannya. Mel, aku ingin mencium susumu, bolehkan.

Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Hafid. Dan kulihat Hafid begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya.

Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki. Mel, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu, bisik Hafid. Iya, Fid, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar -benar aku inginkan, balasku manja. Tak lama kemudian, Hafid dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras.

Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu. Jangan berhenti Fid, teruskan ya aku enak sekali.. Dan tanganku pun dibimbing Hafid untuk membuka reitsleting celananya. Dan aku membukanya.

Kemudian Hafid mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Hafid dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku.

Reitsleting celana Hafid sudah terbuka dan tiba-tiba Hafid menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Hafid. Dan Hafid menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Hafid yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut.

Hafid masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Hafid menggigit puting susuku. Fid, teruskan ya jilat aja Fid, sesukamu.. desahku tak karuan. Sementara aku masih terus memegang penis Hafid. Dan sepertinya Hafid makin bernafsu dengan permainan seksnya. Akhirnya Hafid sudah tidak tahan lagi. Mel, kamu isap punyaku ya mau nggak Isap bagaimana.. Tolong keluarin punyaku di mulutmu.

Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dimaui Hafid, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Hafid merubah posisi duduknya, Hafid menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaan Hafid. Fid, besar sekali punyamu. Langsung aja Mel, aku sudah tidak tahan.. Aku langsung mengulum pelan-pelan kepunyaan Hafid. Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu.

Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Hafid. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Hafid. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah.

Dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Hafid aku jilatin terus. Ah benar-benar nikmat. Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Hafid, tiba-tiba, Hafid menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. Terus Mel, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi.

Dan tidak lama setelah itu, Hafid mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Hafid. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Hafid dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Hafid. Ah rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma.

Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Hafid. Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Hafid kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku. Mel, aku sudah keluar, banyak ya.

Banyak sekali Fid, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa. Tidak apa-apa Mel.. Kemudian Hafid mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Hafid. Dan Hafid mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11 malam. Dan aku diantar oleh Hafid tepat jam 11 lewat 35 menit.

Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Hafid esoknya.

Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Hafid yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu. Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Hafid menjemputku dan Hafid membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku.

Tempat apa ini Fid, tanyaku. Mel, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau. Entahlah Fid, aku masih takut tempat seperti ini. Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan. Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu.

Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.

Mela, kita santai di sini aja ya mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau.. pinta Hafid. Aku setuju saja Fid, terserah kamu. Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Hafid membaringkan badanku di tempat tidur. Mel, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku.

Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Hafid berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Hafid daripada malam kemarin.

Ternyata kepunyaan Hafid lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Hafid sudah terlihat bugil di depanku. Hafid memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Hafid menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai.

Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Hafid mengelus susuku yang sudah keras. Dan lama -kelamaan tangan Hafid sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku.

Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Hafid jongkok tepat di depan vaginaku. Hafid memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku. Mel, bodi kamu bagus sekali. Hafid sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.

Mel, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana. Terserah kamu Fid, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu.. Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Hafid. Kemudian Hafid meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi.

Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Hafid bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Hafid. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri. Hafid menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah.

Begitu bibir Hafid sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Hafid membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Ah nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Hafid sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar.

Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Hafid sambil meremas susuku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik.

Hafid sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku. Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi, kukatakan pada Hafid. Fid, masukkan punyamu ke punyaku ya masukannya pelan -pelan, pintaku. Hafid lalu bangkit dari arah bawah.

Dan menciumi bibirku. Mel, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya. Tidak Fid, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya.Lalu Hafid melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Hafid yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali. Dan kubimbing penis Hafid agar tepat masuk di lubang vaginaku.

Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Hafid berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku. Oh enak sekali, jeritku.

Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Hafid. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Hafid, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Hafid membisikkan sesuatu di telingaku, Mel, kamu sudah tidak perawan lagi.

Ngga apa-apa Fid, jangan dilepas dulu ya Terus Fid, goyang lebih kencang, aku enak sekali.. Dengan posisi aku di bawah, Hafid di atas, kami melakukannya lama sekali. Hafid terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Hafid masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga. Hafid sepertinya aku sudah tidak tahan lagi aku mau keluar.

Keluarin terus Mel, aku tidak akan melepaskan punyaku. Fid, aku tidak tahan lagi a..ahh aaahh.. aku keluar Fid, aku keluar.. keluar Fid..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan aaaa aaaa.. Pada saat orgasme yang pertama, Hafid langsung menciumi bibirku. Oh benar -benar luar biasa sekali enaknya. Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Hafid dan aku masih memeluk badan Hafid.

Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin. Mel, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan sekarang aku mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan aku isap punyamu. Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Hafid bisa sangat jelas mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang.

Mel punyamu lebar sekali. Isap terus Fid, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali. Aku terus mengisap punya Hafid sementara Hafid terus menjilati vaginaku dan kami melakukannyasangat lama sekali. Penis Hafid yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya.

Dan permainan mulut Hafid di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin kuakhiri. Fid aku mau keluar lagi aku tidak tahan lagi honey Tahan sebentar Mel, aku juga mau keluar.

Tiba-tiba Hafid langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas. Dengan cepat Hafid melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Hafid ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Hafid memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Hafid yang besar.

Dorong yang keras Fid, lebih keras lagi, desahku. Hafid menggoyangan badannya lebih cepat lagi. Iya Fid, seperti itu terus aaa..aaa enak sekali, aku mau melakukannya terusmenerus denganmu.. Mel, aku sudah tidak tahan lagi aku mau keluar Aku juga Fid, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya aaa..

Mel aku keluar.. Aku juga Fid aaa aa terasa Fid, terasa sekali hangat spermamu.. Aduh, Mel goyang terus Mel, punyaku lagi keluar Aduh Fid enak sekali Bibirku langsung menciumi bibir Hafid yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur.

Mel spermaku sekarang ada di dalam punyamu. Ia Fid Tidak lama kemudian, Hafid membersihkan cairan spermanya di vaginaku. Mel, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab. Iya Fid.. jawabku singkat. Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan aku mengalami kenikmatan sampai dua kali.

Sekali keluar pada saat Hafid menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Hafid memasukkan penisnya ke vaginaku. Hafid pun mengalami hal yang sama. Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam kami sudah melakukannya lagi.

Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitunghitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Hafid hanya 3 kali. Jadi sudah 11 kali aku keluar.

Sementara Hafid sudah 7 kali. Malamnya tepat jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan sampai sekarang hubunganku dengan Hafid bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja.

Dan, baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, aku datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Februari 2001) ini aku masih dapat.

Aku langsung menelepon Hafid sepulang dari sekolah. Fid, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil. Iya Mel syukurlah Fid, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau Fid.. Dan, ternyata kami bisa melakukannya di mana saja.

Kadang aku mengisap penis Hafid sambil Hafid menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Hafid keluar yang tentunya semua kutelan, karena sudah biasa, setelah itu tangan Hafid memainkan vaginaku.

Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Hafid, tapi aku mengisap kepunyaan Hafid sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Hafid sudah keluar. Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku. Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan.

Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Hafid langsung mengajakku ke penginapan
Cerita 17+ / Cerita 18+ / Cerita ABG / Cerita Dewasa / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa
   
  Obat Pembesar Penis   Vimax  Obat Pembesar Penis


 Alat Bantu Sex


0 Response to "Cerita Sex Masukan Anumu Ke Anuku"

Posting Komentar